MEDIA SOSIALISASI BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
BPJS

Wednesday, 27 February 2013 4:56 PM

Pasien Miskin (2), Puskesmas Raksasa Bernama RSCM

Fasilitas kesehatan di daerah minim mengakibatkan pengiriman pasien ke RSCM bagaikan “air bah”.

BPJS Info Cepat, cepat, mana obatnya?” kata seorang dokter sambil berlari-lari di ruang tunggu Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), awal bulan lalu. Yang dicari adalah Mama Amri, salah satu keluarga dari salah satu pasien yang berasal dari Papua Barat.

Namun, saat itu, dia tidak ada di dekat pasien. Mama Amri sedang mengurus pendaftaran jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) supaya bisa menebus obat secara gratis di apotek yang ada di UGD. “Pasiennya kesakitan, harus segera diberi obat,” katanya lagi sambil terus mencari. Mama Amri akhirnya ketemu. Dia sedang berdiri antre di depan loket jaminan sosial di UGD.

Begitu bertemu, resep yang dibawa Mama Amri langsung diminta. Sang dokter itu kemudian berlari ke apotek, memberikan resep kepada petugas, dan beberapa saat kemudian obat datang. “Di RSCM sekarang bisa langsung ambil obat dulu, kelengkapan administrasi diurus belakangan,” jelasnya. Beberapa saat kemudian, dia menyuntikkan obat penghilang rasa sakit melalui infus.

Di dekat pasien, tergeletak pasien lain dari Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Dia mengalami kecelakaan sebulan sebelumnya yang mengakibatkan patah tulang leher. Di sudut-sudut ruangan tunggu UGD, pasien lain merintih kesakitan. Mereka ada yang tergeletak di tempat tidur, ada juga yang duduk di kursi roda, bahkan di kursi tunggu yang keras. Begitulah suasana UGD di RSCM. Banyaknya pasien yang datang mengakibatkan petugas medis RS kewalahan menangani.

Menurut relawan kesehatan Ade Suhendar, beberapa pasien bahkan ada yang diperiksa ketika masih di dalam bajaj, dan yang lainnya diperiksa di teras UGD. Direktur Utama (Dirut) RSCM Heriawan mengakui kondisi itu sangat mungkin terjadi. Setiap hari ruang UGD di RSCM selalu penuh. Bahkan, satu ruangan di UGD yang seharusnya untuk satu pasien tak jarang harus diisi dua pasien.

“Diperiksa di bajai itu mungkin karena mungkin di dalam penuh. Jadi mau dipastikan dulu seberapa besar tingkat kedaruratannya,” ujarnya. Dia mengatakan, jumlah pasien yang datang ke RSCM bagaikan “air bah”. Saat ini, 80 persen kamar di RSCM adalah kelas tiga. “RSCM tidak punya kelas satu, semua sudah diubah kelas tiga. VVIP ada 40 bed dan kelas dua ada 16 bed,” tambahnya.

RSCM merupakan RS rujukan tingkat nasional yang dinilai memiliki alat-alat kesehatan paling lengkap. Selain RSCM, RS lain yang menjadi rujukan nasional adalah RS Fatmawati, RS Persahabatan, RS Jantung Harapan Kita, RAB Harapan Kita, dan RS Kanker Darmais. Kondisi seperti itu juga dialami RS Fatmawati. Sebanyak 65 persen ruang inap di RS itu adalah kelas tiga. “Itu saja tetap kurang,” kata Dirut RS Fatmawati Andi Wahyuningsih Attas saat bertemu dengan relawan.

Selama ini, RS Fatmawati kebanjiran pasien dari daerah sekitar Banten dan Jawa Barat (Jabar). “Jangan RSUD terus merujuk ke pusat. Kalau seperti ini, RS pusat bisa jadi puskesmas raksasa,” katanya. Fasilitas Daerah Minim Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zainal Abidin mengemukakan minimnya sarana dan prasarana di daerah membuat itu semua terjadi.

Dari catatan IDI, banyak kondisi puskesmas di Indonesia yang buruk. Puskesmas terutama di luar Pulau Jawa banyak yang fasilitasnya tidak lengkap. Kepala Bidang Pengembangan Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu Dengan Sistem Rujukan, PB IDI, Gatot Soetono menambahkan, riset fasilitas kesehatan Kementerian Kesehatan 2011 menyebutkan, masih banyak puskesmas berada di bawah standar yang ditentukan dalam buku Pedoman Puskesmas.

"Menurut riset tersebut, saat ini baru ada 8.981 puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia yang disiapkan untuk melayani 251 juta penduduk Indonesia. Jumlah itu masih harus ditambah, sebab bila dirata-rata setiap puskemas harus melayani 25.000-30.000 penduduk Indonesia," katanya. Selain jumlahnya yang belum sepadan dengan jumlah penduduk Indonesia, terdapat pula disparitas yang cukup tajam berdasarkan geografi, kota-desa, dan regional.

Dari jumlah itu, hampir 60 persen puskesmas yang ada di Indonesia berada di Pulau Jawa. Namun, sebagian besar puskesmas berada di ibu kota provinsi. Sebanyak 46,6 persen puskesmas sejauh ini diketahui juga belum memiliki pedoman esensial puskesmas. Bahkan, 26,3 persen alat kesehatan poli umumnya seperti stetoskop, tensimeter, timbangan, dan tempat tidur periksa masih di bawah 40 persen.

Sebanyak 74,4 persen puskesmas tidak memiliki alat kantor lengkap dan 28,3 persen tidak memiliki sarana air bersih. Di sisi lain, persebaran dokter di Indonesia juga tidak merata. Saat ini, jumlah dokter sebanyak 94.641 orang. Untuk mencapai jumlah ideal, masih dibutuhkan lagi sekitar 15.000-20.000 dokter. "Selain jumlahnya yang belum ideal, persebaran dokter juga belum merata, sebab 19.567 dokter atau 20,67 persen berada di Jakarta.

Jumlah dokter tertinggi selanjutnya ada di Jawa Barat, yaitu 14.573 dokter atau 15,40 persen, Jawa Timur 10.623 dokter atau 11,22 persen, dan Jawa Tengah 9.999 dokter atau 10,57 persen," ucapnya. Persebaran yang tidak merata itu mengakibatkan ketersediaan dokter di daerah kurang. Relawan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek) Roy Pangharapan menyampaikan, Kota Depok yang dekat dengan Ibu Kota Jakarta hanya memiliki 69 tempat tidur di RSUD.

Akibatnya, banyak pasien dari Depok dilempar ke RSCM dan RS Fatmawati. Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Upaya Kesehatan (BUK) Akmal Taher mengakui semua itu. Namun, dia mengatakan, pemerintah akan memperbaiki fasilitas kesehatan hingga 2019, supaya rakyat tak banyak yang telantar.

Sumber : shnews.co

 

BERITA LAINNYA

KOMENTAR