MEDIA SOSIALISASI BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
BPJS

Wednesday, 14 November 2012 3:19 PM

KJS Belum Berfungsi di Semua RS Rujukan

BPJS-Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang diluncurkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Sabtu (10/11), hingga saat ini masih belum merata penyebarannya. Hingga kini, KJS belum bisa digunakan di beberapa rumah sakit (RS) rujukan. Alasannya, karena mekanisme penggunaannya belum jelas dan masih perlu kejelasan sistem.

Di Puskesmas Kecamatan Kali Deres, Jakarta Barat, misalnya, tampak warga sekitar masih hilir-mudik mencoba mendaftarkan diri untuk mendapatkan KJS. Warga yang datang hanya membawa Kartu Keluarga dan KTP sebagai persyaratan utama membuat KJS. Pihak puskesmas sempat kewalahan menghadapi pendaftaran KJS. Kepala puskesmas Kali Deres drg Kristy Wathini saat ditemui SH, Selasa (13/11), mengatakan, di puskesmasnya hingga saat ini belum mendapatkan kartu tersebut. Namun pola pelayanan puskesmas sudah mengikuti aturan sesuai KJS. “Mungkin kartunya belum jadi, tetapi kita sudah melayani sesuai dengan prosedur KJS,” katanya. Kristy juga mengatakan, sejak diberlakukan sistem pengobatan gratis, jumlah pasien Puskesmas Kali Deres meningkat.

Sejak KJS diberlakukan Sabtu lalu, hingga saat ini hampir 800 warga yang berobat sekaligus mendaftarkan diri sebagai peserta KJS. Antusiasme warga mendaftar KJS lantaran prosedurnya lebih mudah dibandingkan membuat kartu Keluarga Miskin (Gakin) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Warga yang memiliki KTP DKI dapat langsung mendaftar tanpa perlu verifikasi sebelumnya. “Kalau Gakin dan SKTM prosesnya lama. Warga harus mengurus ke RT, RW, dan kelurahan, pakai verifikasi dan yang menentukan warga berhak mendapatkannya adalah Dinas Kesehatan. Sementara itu, KJS hanya perlu menunjukkan KK dan KTP DKI serta langsung bisa berobat gratis.

Proses pendaftarannya pun hanya sekitar 15 menit,” katanya. Dia menjelaskan, pendaftaran pasien KJS menggunakan KTP hanya untuk warga yang sudah ber-KTP. Untuk warga yang belum memiliki KTP, pendaftarannya menggunakan KK. Kristy mengatakan, mekanisme pendaftaran KJS adalah pasien datang ke puskesmas dan langsung mengambil nomor pendaftaran. Setelah nomornya dipanggil, pasien menyerahkan fotokopi KTP bagi orang dewasa, dan anak-anak menggunakan fotokopi KK. Setelah itu bagian loket melengkapi pendaftaran dan pasien diwajibkan untuk tanda tangan. Dia juga menjelaskan, jika di puskesmas tidak bisa menangani penyakit yang diderita pasien maka pihaknya akan segera merujuk ke RSUD.

Namun jika RSUD tidak bisa juga menangani, maka pihak RSUD akan merujuknya ke rumas sakit besar. “Ada tiga rujukan rumah sakit tertinggi di Jakarta kalau di puskesmas dan RSUD tidak bisa menangani lagi, yaitu RS Harapan Kita, RS Dharmais, dan RS Cipto Mangunkusumo,” tuturnya. Meski mendapatkan KJS mudah, tapi penggunaannya masih menghadapi kendala. KJS belum dapat digunakan di beberapa rumah sakit rujukan karena mekanismenya belum jelas. Kepala humas RS Jantung Harapan Kita, Anwar mengatakan, KJS hingga saat ini belum bisa digunakan sebab pihak rumah sakit belum menggunakan sistem tersebut. “KJS tidak bisa digunakan karena mekanisme penggunaannya belum diketahui seperti apa,” ujarnya.

Anwar melanjutkan, seharusnya ada pembahasan terlebih dahulu mengenai mekanisme penggunaan KJS antara pihak RS, Dinas Kesehatan, dan pemerintah provinsi. Dengan demikian, KJS bisa langsung digunakan di rumah sakit rujukan tertinggi seperti RS Harapan Kita. “KJS belum bisa digunakan, tetapi untuk Gakin dan SKTM masih dapat digunakan bagi pasien yang mendapat untuk dirawat di RS Harapan Kita,” ujarnya. Berbeda dengan di RS Kanker Dharmais, menurut petugas SKTM dan Gakin di sana, Sulistyo, pihak rumah sakit sudah bisa menerima pasien yang menggunakan KJS sehingga pasien tidak perlu lagi menggunakan SKTM. “Mereka cukup menyertakan surat rujukan dari puskesmas dan RSUD.

Selain itu, pasien juga harus menyertakan KTP dan KK kepada pihak rumah sakit. RS Dharmais hanya untuk rumah sakit rujukan bagi pasien yang menderita kanker dan penderita HIV/Aids,” tutur Sulistyo. Namun ia mengatakan, hingga saat ini belum ada pasien yang berobat menggunakan KJS meskipun sudah diperbolehkan sejak Sabtu lalu. Menurutnya, pasien kebanyakan masih menggunakan SKTM dan Gakin. Dia juga mengatakan, pasien yang menggunakan KJS hanya bisa dirawat di ruangan kelas 3 rumah sakit tersebut. “Pasien juga bisa menggunakan KJS untuk melakukan operasi yang menyangkut penyakit kanker,” ucapnya. Sementara itu, Sunardi (33), warga Rawa Lelel, Kali Deres, Jakarta Barat, mengatakan, KJS mempermudah warga untuk menikmati jaminan kesehatan.

Selain itu, pendaftaran yang mudah membuat warga, khususnya masyarakat kecil, semakin diperhatikan pemerintah. “Kalau mau berobat sebelumnya bayar, sekarang semuanya sudah gratis. Membuat KJS juga tidak memakan waktu lama,” katanya. Hal tersebut dibenarkan Rahmat, pasien warga Rawa Lele yang mengalami demam mengatakan, sangat senang dengan adanya sistem KJS dan ia kini tidak perlu lagi membayar apa pun. “Sebelum ada KJS, saya kalau sakit panas disuruh bayar administrasi loket Rp 2000, belum obatnya, tapi sekarang semua gratis. Untuk proses pendaftarannya juga tidak lama,” ujarnya. (*)

Sumber : SHNEWS.co

 

BERITA LAINNYA

KOMENTAR

Twitter Facebook